Selasa, 23 Juni 2015


Ada yang bilang memakan es krim itu bikin gemuk? No way, itu artinya kamu percaya dengan mitos-mitos. Memakan Es Krim sebenarnya sangat bagus dalam menemani aktivitas kita yang padat apalagi diketahui es krim ini mempunyai sejumlah manfaat. Asal kamu bisa mengimbangi jumlah kalori dalam es krim, tak akan bikin kamu gemuk kok :D.



Manfaat Dan Fungsi Es Krim Untuk Kesehatan



  1. Menjaga kesehatan jantung
Makanan yang kaya akan flavonoid yang ada pada coklat, mampu menjaga kesehatan jantung, karena dapat menghambat oksidasi LDL. Flavonoid pada coklat ini juga berperan sebagai antioksidan yang dapat mencegah penuan dini.

      2. Merangsang sistem kekebalan tubuh

Dengan mengkonsumsi es krim coklat maka tubuh akan lebih banyak menghasilkan sitokin. Sitokin adalah protein yang diproduksi sebagai bagian dari sistem imun tubuh. Maka coklat bermanfaat dalam merangsang sistem kekebalan tubuh.

      3. Banyak Vitamin

Es krim ternyata memiliki banyak vitamin, yaitu vitamin A, D, K dan B12. Vitamin A baik untuk kesehatan mata, Vitamin D mampu menyerap kalsium dan nutrisi dari makanan, dan menyimpannya di ginjal. Vitamin K mampu meningkatkan aliran darah dalam tubuh dan membuka sel darah yang tersumbat. Vitamin B12 mampu meningkatkan memori dan sistem saraf.

      4. Mencegah Osteoporosis

Kandungan kalsium dalam es krim dapat membantu menjaga kepadatan tulang, sehingga mampu mencegah osteoporosis. Sehingga boleh di konsumsi untuk wanita khususnya, yang biasa mengalami lebih cepat osteoporosis. Tapi jangan berlebihan ya. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik


Kamis, 18 Juni 2015

mau pergi jalan-jalan ?? tapii???
gaa bisa nyetir ...?
gaa tau jalan ??

yeahh mobil kecil, unik dan lucu ini menjawab kebutuhan anda.. get it now !!!









if you want to look this poster you can clik in here


google kembali meluncurkan google car tanpa pengemudi yang siap untuk mengantar anda kemanapun anda mau tanpa harus susah payah untuk menyetir mobil.
kecanggihan mobil ini adalah :
1. mobil ini dilengkapi dengan radar yang dapat mengenali para pengendara sepeda dijalan sehingga dapat menghindari kecelakaan dengan cara memberi tanda dengan melambaikan tangan maka mobil tersebut pun akan otomatis memperlambat lajunya atau berhenti seketika.
2. Cukup agresif. Situasi jalanan berbeda-beda, misalnya saja ada sebuah perempatan tanpa lampu merah. Apa yang akan dilakukan mobil Google dalam kondisi seperti itu?
Pengendara manusia mungkin akan diam saja dan menunggu dengan sabar gilirannya melaju atau berbelok. Tapi mobil Google dirancang untuk lebih agresif, dia akan berjalan perlahan-lahan secara konsisten dan memberi tanda pada mobil lain bahwa ia ingin giliran melaju.
3. apabila didalam jalan kota mobil ini akan melaju normal namun apabila di jalan tol mobil ini akan berjalan kencang juga. 
4. Mendeteksi lubang di jalan. Tim Google mendesain agar si mobil mampu mengenali polisi tidur atau lubang di jalanan. Si mobil tidak menghindari halangan tersebut, tapi akan memperlambat lajunya sehingga lebih mulus dalam melaluinya.
5.mobil ini juga dilengkapi dengan sistem android yang akan memudahkan kita dalam melacak tempat atau peta jalan.sehingga mempermudah kita dalam melakukan perjalanan, sekalipun kita tidak tau peta jalan tersebut. 

Kelemahan
1. Menghadapi cuaca buruk. Cuaca yang buruk membuat kontrol mobil Google lebih sulit, terutama karena pandangannya ke dunia sekitar terhalang. Keberadaan kabut misalnya, akan membatasi apa yang bisa dilacak radar. Kabar baiknya, tim Google sedang mengujicoba mobil ini agar di kemudian hari mampu menghadapi cuaca yang kurang bersahabat dengan mulus.
2. Kehilangan sinyal. Sinyal selular diperlukan oleh si mobil untuk mengakses bank peta Google yang mendetail dan memungkinkannya mengirim informasi. Koneksi selular lemah sebenarnya tidak menjadi masalah, tapi jika hilang sama sekali, maka menurut tim Google, si mobil akan melakukan langkah pengamanan tertentu. Tidak disebutkan seperti apa, tapi kemungkinan sang mobil akan meminta manusia mengambil alih kemudinya.
3. Mengenali polisi. Sang mobil memang akan mengenali jika ada seseorang memberhentikannya di tengah jalan, tapi dia tidak akan mengenalinya sebagai polisi. Dalam situasi ini, si mobil mungkin akan sedikit kebingungan dan menyerahkan kendali pada pengemudi manusia.

4. Mengenali makhluk kecil. Si mobil akan mengenali kerumunan manusia, pejalan kaki atau binatang besar seperti rusa yang mencoba menyeberang jalan, tapi dia belum dapat mengenali hewan kecil, misalnya saja tupai. Tupai masih terlalu kecil untuk dapat dikenali sensornya. Saat ini, tim Google masih memperbaiki teknologinya sehingga di masa depan makhluk sekecil tupai pun dapat terdeteksi.


Minggu, 07 Juni 2015

While there is debate about Bali's prehistoric history, there is ample proof of a well developed Megalithic culture. Nevertheless, good documentation about Balinese culture does not begin to emerge until the 8th or 9th century A.D. At this point the Balinese had already begun to practice various forms of Buddhism imported from India and there is evidence of Hindu influences as well. From the 10th to 11th century, Hinduism continued to merge with local customs. Through intermarriage, Javanese culture began to permeate royal court life and later spread to the villages.

The Hindu Majapahit Empire of Java conquered Bali in the 14th century. (The Majapahit imposed a caste system on Bali with themselves on top and the original inhabitants of the island on the bottom.) By the beginning of the 16th century Bali became a sanctuary for Hindus forced out of an increasingly Islamicized Java. As the Majapahit Empire crumbled, there was a huge influx into Bali of Javanese noblemen and craftsmen.
Indonesia's wealth in spices, precious stones, gold and other exotic items have attracted traders for centuries. The islands in the Indonesian Archipelago were natural way stations on the trade routes between the Middle East, India and China. The Balinese were never an active seafaring people. It was the Chinese, Indians, Arabs, Malays, Javanese and Bunganese who plied the trade routes. Later came the Portuguese, English and Dutch.
Bali has no naturally protected harbors and the coastline is notoriously perilous. Many coastal villages profited routinely by plundering shipwrecks. One such incident provoked the Dutch invasion of 1906, which was relatively late in their 300 years of colonial rule in Indonesia. Despite the bloody conquest, Balinese culture was relatively undisturbed for most of the years of Dutch occupation, partly because Singaraja, in the north of the island, was the only place that ships could anchor in relative safety and travel in the interior of the island was difficult. Ships from all over South East Asia stopped to exchange goods in Singaraja but for the most part, before the advent of airplanes, only the inhabitants of the north end of the island were directly exposed to foreign influences. Nevertheless, the Dutch did exploit the island vigorously, siphoning off essential resources through an efficient and clever system that used the local aristocracy to do their bidding. After the Dutch, Bali endured an era of Japanese occupation during World War Two and then became part of an independent Indonesia. Under Presidents Sukarno and Suharto political loyalties continued to shift the balance of power. Technically the aristocracy and the Brahmins (priestly caste) no longer "rule" but in practice they still enjoy a large measure of power and privilege.
The arrival, in the last few decades, of tourists, export industries and technology, have had many easily observed effects. The Balinese usually dress in Western cloths, they send faxes, roar down the streets on motorbikes and watch TV. But such changes can be misleading.
Balinese reality is vastly more inclusive than Western consciousness allows. The Balinese have a word, "sekala," for things which you can perceive with your sense of vision, hearing, smell or touch. There is another word, "niskala", for "that which cannot be sensed directly , but which can only be felt within." In the West, we only recognize sekala phenomena as "real", but in Bali they make no distinction between the two.
Mystical forces, both malevolent and benevolent, occupy a central role in Balinese life. The principal Hindu-Balinese rituals and ceremonies are concerned with maintaining the balance between positive and negative forces. Demons and witches, called leyaks, are not creatures of fairy tales but dangerous and common menaces against which everyone must be on guard at all times. Objects and places which are considered inanimate in the West may be charged with mystical power and therefore very much alive to the Balinese. For this reason, they make offerings to many objects, including the tools used to make silver beads and the building in which the silversmiths work. Directions, numbers and dates can be charged with "kasaktian," which means "magical power." Every activity must be carried out with careful consideration and the Balinese often consult religious authorities for propitious dates for important events. The Balinese also accept dual realities, something may be true, but not true, and in certain circumstances they reject linear time.

http://www.baliclick.com/about-bali-history-culture.asp

Selasa, 02 Juni 2015


1.            Pewadahan dan Penyimpanan Reagen
Reagen dapat berupa zat padat atau (bubuk kristal zat cair ). Tempat penyimpanan reagen pun harus selalu ditutup dengan baik (hermetis) supaya zat kimia tidak terkena kelembaban udara dan jamur tidak dapat tumbuh.untuk mendapat hasil reagen yang baik, mutu bahan kimia harus dipilih dengan cara membandingkan pentingnya ketelitian dalam menganalisa
Dan peralatan laboratorium sangatlah penting dala melakukan suatu kegiatan praktikum. Peralatan laboratorium juga beraneka ragam jenis dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kewaspadaan serta ketepatan dalam penggunaan harus dilaksanakan agar tidak terjadi kerusakan pada peralatan laboratorium.
Mengenal bahaya merupakan langkah pertama dalam rangka mengendalikan bahaya di dalam pabrik kimia, termasuk di laboratorium. Ada beberapa sumber bahaya yang terdapat di dalam laboratorium maupun alat laboratorium, baik bahaya yang bersifat fisik maupun kimia. Dan mungkin di beberapa laboratorium dan alat laboratoriumada bahaya yang bersifat biologis.
Sumber bahaya di setiap laboratorium dan alat laboratorium memang berbeda-beda. Ini dipengaruhi oleh jenis analisa yang dilakukan, chemical reagent yang dipakai, alat analisa yang digunakan, jenis bahan yang dianalisa, kondisi ruangan laboratorium dan alat laboratorium.
Berikut ini adalah beberapa sumber bahaya, yang umumnya dapat kita jumpai di dalam laboratorium maupun alat laboratorium. Daftar bahaya tersebut dapat kita gunakan sebagai acuan, manakala kita hendak melakukan hazard identification process di laboratorium.
Apa Saja Bahaya Yang Bersifat Fisik
1.      Listrik
2.      Terpeleset, tersandung dan jatuh
3.      Temperatur ekstrem (panas dan dingin)
4.      Ventilasi yang buruk
5.      Tingkat pencahayaan yang kurang
6.      Radiasi
7.      Getaran mekanis
8.      Kekurangan oksigen
9.      Terkena benda jatuh (contoh: tertimpa silinder gas)
10.  Kelembaban udara
11.  Benda tajam
12.  Apa Saja Bahaya Bahaya Bersifat Kimia
Bahaya kimia berhubungan dengan penyimpanan, penanganan dan pemakaian bahan kimia berbahaya atau B3 di laboratorium. Bahayanya meliputi terciprat, tumpah, tertelan, terhirup, terhisap, kontak dengan kulit, kontak dengan mata dan lain-lain.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiapPVMJUN1F02UNkkm5tYTG2jXFfbEojJhPraIgCV7MojE05w7qLls3d7Oriz1uCukX0Zjei55ZcGwj0onfg9dHyM6ub3LjnjvPg_j5Xmokxa-q_zxYjr4PS8oLp3ELlBebLF-7VDAsWyB/s400/gambar+penataan+jelek+.jpg


Klasifikasi Penyimpanan Bahan Kimia
Bahan Kimia
Tidak Boleh Bercampur dengan
Asam asetat
CH3COOH
Asam kromat, H2Cr2O4; Asam nitrat, HNO3;
Senyawa hidroksil, -OH; Etilen glikol, C2H6O2;
Asam perklorat, HClO4; Peroksida, H2O2, Na2O2;
Permanganat, KMnO4
Aseton
CH3COCH3
Campuran asam nitrat dan asam sulfat pekat,
(HNO3 pkt + H2SO4 pkt); Basa kuat, NaOH, KOH
Asetilen
C2H2
Flor, F2; Klor, Cl2; Brom, Br2; Tembaga, Cu;
Perak, Ag; Raksa, Hg
Logam alkali
Li, Na, K
Air, H2O; Karbon tetraklorida, CCl4; Hidrokarbon
terklorinasi, CH3Cl; Karbon dioksida, CO2;
halogen, F2, Cl2, Br2, I2
Amonia anhidros,
NH3
Raksa, Hg; Kalsium, Ca; Klor, Cl2; Brom, Br2; Iod,
I2; Asam florifa, HF; Hipoklorit, HClO, Ca(ClO)2
Amonium nitrat,
NH4NO3
Asam; serbuk logam; cairan dapat terbakar;
Klorat, ClO3
- ; Nitrit, NO2
-; belerang, S8; serbuk
organik; bahan dapat terbakar

Anilin
C6H5NH2

Asam nitrat, HNO3;
Hidrogen proksida, H2O2
Bahan arsenat, AsO3 -
Bahan reduktor
Azida, N3-
Asam
Brom, Br2
Amonia, NH3; Asetilen, C2H2; butadiena, C4H6;
butana, C4H10; metana, CH4; propana, C3H8 (
atau gas minyak bumi), hidrogen, H2; Natrium
karbida, NaC; terpentin; benzen, C6H6; serbuk
logam
Kalsium oksida, CaO
Air, H2O
Karbon aktif, C
Kalsium hipoklorit, Ca(ClO)2; Semua oksidator
Karbon tetraklorida,
CCl4
Natrium, Na
Klorat, ClO3-
Garam amonium; asam; Serbuk logam; Belerang,
S8; Bahan organik serbuk; Bahan dapat terbakar
Asam kromat,
H2Cr2O4; Krom
trioksida, Cr2O3
Asam asetat, CH3COOH; Naftalen, C10H8;
Kamper, C10H16O; gliserol,
HOCH2CH(OH)CH2OH; Gliserin; terpentin;
alkohol; cairan mudah terbakar
Klor, Cl2
Ammonia, acetylene, butadiene, butane,
methane, propane (or other petroleum gases),
hydrogen, sodium carbide, turpentine, benzene,
finely divided metals
Klor dioksida, ClO2 
Ammonia, metana, fosfin, Asam sulfida
Tembaga
Asetilen, hidrogen peroksida
Cumene
hidroperoksida
Asam, organik atau anorganik
Sianida
Asam
Cairan dapat
terbakar
Amonium nitrat, Asam kromat, hidrogen
peroksida, Asam nitrat, Natrium peroksida,
halogen
Hidrokarbon
Flor, klor, brom, ASam kromat, Natrium peroksida
Asam sianat
Asam nitrat, Basa
Asam florida
Ammonia, aqueous or anhydrous
Hidrogen peroksida
Tembaga, Krom, Besi, Kebanyakan logam atau
garamnya, Alkohol, Aseton, bahan organik, Anilin,
Nitrometan, Cairan dapat terbakar
Asam sulfida

Asam nitrat berasap, Asam lain, Gas oksidator,
Asetilen, Amonia (berair atau anhidros), Hidrogen
Hipoklorit
Asam, Karbon aktif
Iod
Asetilen, Amonia (berair atau anhidros), Hidrogen
Raksa
Asetilen, Asam fulmanat, Amonia
Nitrat
Asam sulfat
Asam nitrat (pekat) 
Asam asetat, Anilin, Asam kromat, Asam sianat,
Asam sulfida, Cairan dapat terbakar, Gas dapat
terbakar, Tembaga, Kuningan, Logam berat
Nitrit
Asam
Nitroparafin
Basa anorganik, Amina
Asam oksalat
Perak, Raksa
Oksigen
Oli, Lemak, hidrogen; Cairan, padatan, dan Gas
dapat terbakar
Asam perklorat
Asetat anhidrid, Bismut dan aliasinya, Alkohol,
Kertas, Kayu, Lemak dan oli
Peroksida, organik
Asam (organik atau mineral), Hindari gesekan,
Simpan di tempat dingin
Fosfor (putih)
Udara, Oksigen, Basa, Bahan reduktor
Kalium Karbon tetraklorida,
Karbon dioksida, Air
Kalium klorat dan Perklorat
Asam sulfat dan asam lain


2.            Pewadahan dan Penyimpanan Media Mikrobiologi
Media Mikrobiologi adalah salah satu bahan consumable yang banyak digunakan di laboratorium. Jika di sebuah laboratorium terdapat laboratorium mikrobiologi, sudah pasti dibutuhkan media mikrobiologi secara rutin.
Media mikrobiologi, seperti bahan bahan di laboratorium yang lain, harus dipastikan diterima dengan baik di laboratorium. Karena bahan yang baik akan menentukan kualitas analisa. Media Mikrobiologi juga perlu disimpan dalam kondisi yang benar. Walaupun sudah ada waktu expired date, penyimpanan media mikrobiologi yang tidak benar akan mempercepat proses penurunan kualitas media mikrobiologi tersebut.
Dokumentasi pada penerimaan barang yang baik juga akan meminimalisasi terjadinya ketidak tersediaan stok produk pada gudang sehingga menghambat analisa.


Berikut adalah 6 langkah yang dapat dilakukan ketika menerima media  mikrobiologi di laboratorium.
1. Pastikan Nama, No katalog dan packing yang datang sesuai dengan yang kita pesan.
Pada beberapa vendor terdapat produk produk yang  mempunyai nama yang hampir sama, misalnya produk yang sama dengan bentuk cair atau padatan. Ukuran packing juga perlu diperhatikan karena perbedaan ukuran packing biasanya dibedakan dengan kode penomeran setelah no katalog.
Perhatikan contoh berikut,
·         Egg yolk emulsion dan egg yolk tellurite emulsion
·         Pseudomonas CFC Selective supplement dan pseudomonas CN Selective Supplement
·         Sabaroud 2 % Dextrose Agar dan Sabaroud 2 % Dextrose brot

2. Batas kadaluarsa ( Expired Date )
Perlu diperhatikan waktu batas kadaluarsa dari media mikrobiologi yang diterima. Waktu batas kadaluarsa yang umum tergantung jenis medianya adalah 3 – 5  tahun. Beberapa media khusus mempunyai batas kadaluarsa yang lebih singkat.  Diskusikan ke vendor jika media mikrobiologi yang anda terima hanya mempunyai kurang dari 50 persen dari masa kadaluarsa seharusnya.
Media yang sudah jadi ( prepare media microbiology ) , supplement media mikrobiologi dan beberapa media cair mempunyai batas kadaluarsa yang lebih singkat,  misalnya egg yolk yang hanya mempunyai batas kadaluarsa satu tahun.
3. Certificate of Analysis
Setiap menerima media mikrobiologi usahakan untuk minta disertakan Certicate of Analysis untuk setiap produk. Hal ini untuk menjamin keaslian dari produk tersebut. Certifikate of Analysis juga membantu kita memberikan informasi penting seperti tanggal pembuatan, tanggal kadaluarsa, analisa qulaity control yang telah dilakukan untuk media tersebut dan warna yang dihasilkan jika ditanam dengan bakteri tertentu.
Selain CoA, Dokumen yang yang bisa diminta ( biasanya tidak disertakan ) adalah BSE/TSE Certificate ( asal negara dari bahan baku ), Material safety data Sheet ( MSDS ) dan technical data sheet.
4. Dokumentasi.
Adalah sangat penting untuk segera mencatat media mikrobiologi yang diterima kedalam buku stok atau kertas stok. Jika anda menerima media mikrobiology lebih dari satu, tulis di botol tanggal penerimaan dan botol keberapa, misalnya jika kita menerima 4 botol TSA, maka ditulis 15/01/2011 1 of 4, 15/01/2011 2 of 4 dan seterusnya.
Untuk kemudahan administrasi First In First Out ( FIFO ) gunakan selalu botol pertama, sehingga jika botol terakhir sudah digunakan , misalnya 4 of 4, kita diingatkan untuk melakukan pemesanan kembali.
5. Perhatikan label untuk perbedaan penanganan dan penyimpanan
Tidak semua media microbiologi aman bagi kita. Perhatikan label tanda bahaya untuk memisahkan penanganan dan penyimpanan.  Perlakukan media mikrobiologi dengan tanda tengkorak dengan menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. Simpan media mikrobiologi sesuai dengan label untuk meminimalisasi percepatan kerusakan.
6. Pengiriman dengan kondisi spesial.
Media mikrobiologi seperti egg yolk dan egg yolk tellurite emulsions  harus disimpan 2 – 8 C selama pengiriman. Jika Anda memesan media mikrobiologi dengan kondisi khusus seperti itu, pastikan anda menerimanya dengan menggunakan dry ice atau alat lain yang menjamin pengaturan suhu selama dalam pengiriman.



http://niethatata-nietha.blogspot.com/2012/04/pewadahan-dan-penyimpanan-reagenkimia.html
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!